Jumat, 23 November 2012

Hanya Boleh Sebuah Senyum Yang Terpancar Darinya


Kukuruyuk....Sinar matahari pagi telah menyambutku dari tidurku dan ayam berkokok pun telah membantuku terbangun dari tidur. Pagi ini cerah sekali,awal yang baik untuk aku memulai berbagai aktifitas. Perkenalkan namaku Ryan M. Aku bersekolah di SMP Negeri 1 XXX. Aku bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena aku mempunyai banyak teman. Menurut teman-temanku, aku itu gokil,kocak,cerewet,jail,usil,tapi baik hati dan murah senyum. Hehehe.
            Pagi ini aku memulai aktifitas pertamaku dengan bersekolah. Teman-temanku sudah menyambut kedatanganku disekolah ketika aku sampai disekolah.
            “Haha Ryan, udah bel masuk loh yan. Baru dateng koh.” ledek teman-temanku.
            “Haha. Iya koh inih.” kataku pada teman-temanku.
            “Eh yan, hari ini pulang gasik loh ? Kita-kita udah punya acara nih buat nanti. Kita mau main nonton film ke rumahnya Muti. Ikut yuk ?” kata Ika salah satu teman terdekatku.
            “Hah yang bener ajah. Pulang gasik nih. Eh tapi kayaknya aku nggak bisa ikut Ik. Ayahku pasti tak mengizinkanku untuk ikut bermain.” jawabku pada Ika.
            “Tanya ajah dulu sama ayahmu Yan. Siapa tahu ayahmu mengizinkan.” saran Ika kepadaku.
            Aku pun langsung mengambil HP ku dan aku langsung sms kepada ayahku. Betapa sedih dan kesalnya aku kepada ayahku ketika ayahku tidak mengizinkanku untuk ikut bermain.
            “Ik ik ayahku tidak mengizinkanku untuk ikut bermain. Huft.” keluhku pada Ika.
            “Haha. Nggak apa-apa Yan. Mungkin besok kamu dibolehin. Besok kita-kita juga ke rumah Muti lagi.” kata Ika menenangkanku.
            “Semoga ajah deh kayak gitu.” kataku pada Ika.
            Setelah itu aku pun bercanda tawa bersama dengan teman-temanku karena kebetulan minggu ini sekolahku mengadakan classmeeting. Tak terasa bel pulang sekolah pun berbunyi. Karena aku tak ikut bermain, aku pun langsung pulang bersama Laras sahabatku. Aku sangat dekat dengannya walaupun berbeda kelas.
            “Aduh, kenapa kamu cemberut Yan?” tanya Laras padaku.
            “Iya koh. Lagi kesal banget sama ayahku. Masa aku nggak dibolehin main?” jawabku.
            “Udah deh nggak usah cemberut, tuh ada yang bisa buat kamu senyum.” ledek Laras kepadaku.
            “Hahaha. Apaan sih Ras. Ayuh koh pulang Ras.” ajakku pada Laras.
            Dan kami pun pulang. Oiya, masalah yang bisa buat aku senyum itu berinisial AS. Dia bersekolah denganku. Akan tetapi aku dan dia beda kelas, dia sekelas sama Laras. Sebenarnya kami saling suka,akan tetapi kami lebih baik berteman. Hehe
            Sesampainya dirumah, aku tidak mengeluarkan sepatah kata apapun kepada ayahku. Aku sangat kesal dan marah kepadanya.
            “Yan makan dulu, kamu pasti lapar yah ?” tanya nenekku.
            “Ryan nggak mau makan nek. Ryan kesal dan marah kepada ayah. Kenapa sih dari Ryan kecil,hidup Ryan banyak aturan dan larangan? Apa mungkin hanya Ryan yang mengalaminya nek?” tanyaku pada nenek.
            “Hemb, itu tandanya ayah sayang sama Ryan. Ayah cuma pengin yang terbaik buat Ryan.” jelas nenek kepadaku dan nenek pergi meinggalkan ku sendiri di ruang makan.
            Aku pun makan dengan lahapnya. Abisnya laper banget. Hehe. Setelah selesai makan, akupun tidur. Ya ampun, tidur lama banget aku. Aku bangun udah pagi. Untung ajah nggak kelabas mati.
            Seperti biasanya aku memulai aktifitasku dengan bersekolah. Seperti biasanya teman-temanku telah menunggu kedatanganku. Dan lagi-lagi aku terlambat masuk sekolah.
            “Aduh Yan, terlambat lagi kamu. Haha.” kata teman-temanku.
            “Iya koh terlambat. Eh gimana entar jadi main lagi nggak ?” tanyaku pada teman-teman.
            “Ya jadi lah. Masa nggak jadi. Mau ikut apa kamu Yan?” tanya Dini kepadaku.
            “Iya lah aku ikut.” jawabku pada Dini. Akupun menjwab tanpa ragu-ragu karena aku ingin sekali bermain dengan mereka-mereka. Setelah semua kegiatan sekolah telah selesai. Dan bel pulang sekolah pun berbunyi. Betapa senangnya aku bisa ikut bermain dengan mereka kerumahnya Muti. Setelah pulang bermain aku merasa takut kepada ayahku. Karena aku sudah tahu konsekuensinya.
            “Habis dari mana kamu Yan !” tanya ayahku.
            “Ryan habis main kerumah temen Yah.” jawabku.
              Plakkkkk...Ayahku memukulku.
            “Aduh sakit Yah.” kataku pada ayahku.
            “Harus berapa kali Ayah ngomong kekamu Yan ! Ayah itu nggak suka kalau kamu main-main nggak jelas dan nggak ada manfaatnya sama sekali!” kata Ayahku kasar.
            “Yah ! Ryan udah besar,Ryan udah SMP. Kenapa sih Ryan masih diatur-atur, Ryan masih dilarang-larang. Ryan udah bukan anak TK lagi yang masih diatur-atur.” Kataku pada Ayah.
            Plakkkk....Lagi-lagi Ayahku memukulku.
            “Ayah Cuma pengin yang terbaik buat kamu. ayah takut terjadi sesuatu sama kamu, karena kamu anak ayah satu-satunya!” kata ayahku.
            “Tapi Yah, Ryan pengin seperti temen-temen. Mereka dibolehin main sama orang tua mereka.Tapi kenapa Yah, Ryan nggak dibolehin. Kenapa hidup Ryan penuh aturan dan larangan.” kataku.
            “Kalau kamu sayang ayah,kalau kamu masih pengin disayang ayah,kalau kamu pengin masih lihat ayah didunia ini,ayah mohon kamu nurut sama ayah.” kata ayahku pergi meninggalkan ruang tamu dengan penuh kekecewaan terhadapku.
            Hatiku bagaikan tertusuk-tusuk duri ketika mendengar kata-kata ayahku. Hatiku sakit sekali. Aku tak kuasa menahan air mataku dan akupun menangis.
            “Itu bukti betapa ayahmu sangat menyayangimu Yan.” kata nenekku pergi meninggalkanku diruang tamu sendirian.
            Diruang tamu,aku merenungi semua salahku dan kata-kataku. Betapa Ayahku menyayangiku, betapa beliau ingin yang terbaik untukku. Tapi aku telah membuat hatinya terluka,sedih, dan kecewa. Dan akupun merenungi semua perjuangan ayahku untukku. Ayahku bekerja mati-matian untuk membiayai hidupku,untuk memenuhi semua inginku. Selalu memberi nasihat bijak kepadaku, dan selalu menyadarkanku bahwa seberat apapun itu cobaan kita harus tetap tersenyum dan tegar.
            Setelah merenungi semua itu,aku segera mengambil HP ku dan memutar lagu Ada Band yang berjudul Yang Terbaik Bagimu (Jangan Lupakan Ayah)
            Teringat masa kecilku,Kau peluk dan Kau manja
          Indahnya saat itu buatku melambung
          Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
          Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu
          Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
          Patuhi perintahmu jauhkan godaan
          Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
          Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak.
          Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
          Ku terus berjanji takkan khianati pintanya
          Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
          Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu
          Andaikan detik itu kan bergulir kembali
          Ku rindukan suasana basuh jiwaku
          Membahagiakan aku yang haus kasih dan sayangmu
          Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati.

            Itulah lirik lagunya dan akupun tertidur hingga pagi hari.
            Kebetulan hari ini hari minggu,sekolah libur. Aku beranjak dari tempat tidur dan aku pun langsung meminta maaf  kepada ayahku dan ayahku pun memaafkanku. Dan aku pun berteriak bahwa “ Hanya Boleh Sebuah Senyum Yang  Terpancar Darinya”. Aku Sayang Ayah !!!!!!!!!!!!!!!

0 komentar:

Posting Komentar

 
Ryan Marwanti Blogger Template by Ipietoon Blogger Template